Dalam sejarah kehidupan peradaban manusia, selalu saja ditemukan karya-karya monumental yang dengannya mereka memberikan sumbangsih terhadap peradaban. Secara umum dalam sudut tertentu kehidupan kita ini memiliki dua ruang. Space of reality atau ruang nyata, ruang dzahir, real. Dan yang kedua adalah space of possibility atau ruang kemungkinan.
Lihatlah contoh, air mineral kemasan misalnya. Orang bisa menikmati produk tersebut karena ada orang yang menghayalkan tentang bagaimana air itu bisa dikemas, simpel, praktis dan memiliki market value yang tinggi.
Atau cobalah renungkan. Seorang penulis sekaligus jurnalis di Hongaria. Ladislao Biro namanya. Ketika melakukan pekerjaannya ia dihadapkan pada satu masalah. Ia harus bolak-balik mengisi pena dengan tinta. Melelahkan. Seperti halnya ketika saya dulu talaqqi kitab kuning kepada seorang kyai di sebuah pesantren tradisional di Jawa Timur, seperti biasa yang digunakan santri adalah pena tutul, pena yang digunakan menulis dan tintanya ditempatkan di wadah khusus dari kuningan. Menjemukan.
Nah, tahun 1930 Ladislao Biro bersama saudara laki-lakinya yang seorang ahli kimia menghayalkan sebuah pena yang tidak mengharuskannya diisi dengan tinta setiap kali akan digunakan. Caranya, Ditaruhlah semacam bola kecil (ball) di ujung pena. Setiap ujung pena itu menyentuh kertas, maka bola kecil itu akan berputar dan mengalirkan tinta dari cartridge di dalam pena ke bagian bawah. Jadilah ballpen. Luar biasa!.
Pada mulanya karya-karya besar peradaban manusia itu adalah berangkat dari khayalan. Imajinasi. Karenanya dalam imajinasi itu seseorang sesungguhnya sedang memasuki satu ruang yang serba mungkin. Ia masuk dalam spesifik daariratul mumkinaat (wilayah kemungkinan) yang unlimited. Tidak ada yang tidak mungkin bagi seorang imajiner.
Persoalannya adalah seberapa besar talenta imajiner kita. Seberapa luas space of possibility (ruang kemungkinan) itu ada dalam fikiran sadar, pra sadar dan alam bawah sadar kita. Sebab dari fikiran kita ini akan mengawal dan ‘menciptakan’ karya-karya nyata. Apa yang kita lihat dan rasakan saat ini sejatinya berawal dari ruang dalam imajinasi. Sebelum sesuatu itu menjadi sebuah madzhar (wujud penampakan) pertama-tama adalah ruang imajiner. Sekalipun dalam fakta-fakta tertentu kita disuguhkan alam nyata yang terkadang belum pernah terlintas dalam ruang imajinasi. Tetapi dalam diskursus tentang menejemen dan system tata kehidupan organisasi atau yang berhubungan dengan produk kebutuhan ummat manusia sejatinya produk-produk karya manusia itu diawali dari imajinasi.
‘Kekalahan’ qudrati kita dengan anak-anak adalah karena anak-anak itu memiliki wilayah imajiner yang masih unlimited. Original. Masih fitrah. Kita cenderung dalam mempersepsikan satu benda itu sebagaimana fungsinya, fungsi tunggal. Sementara anak-anak mempersepsikan satu benda dengan pendekatan imajinasinya. Karena itu dunia anak-anak adalah dunia yang sangat luas. Sedang dunia kita adalah dunia yang sempit seiring bertambahnya hitungan angka umur kita.
Contoh, ajaklah anak masuk ke ruang kerja anda. Apa yang kita sebut meja kerja akan menjadi ruang istana bagi anak-anak. Apa yang kita sebut wadah ballpen, bagi anak punya fungsi yang lain selain sekedar tempat menyimpan alat tulis. Jadi, anak-anak menjumpai benda-benda itu dengan fikiran alam imajinernya. Selama ini space of possibility kita cenderung sempit. Kenyataannya memang wilayah realitas selalu lebih sempit dari wilayah imajinasi. Bila space of possibility rendah maka ruang realitas yang dilahirkan pun semakin menyempit. Jadi, penciptaan awal karya-karya itu ada pada imajinasi kita selanjutnya baru direalisasi yang alam sesungguhnya.
Seorang visioner kerjanya selalu dimulakan dari wilayah yang serba mungkin. Dairatul mumkinaat. Seorang visioner adalah orang yang berani mencipta sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Seorang visioner orientasinya pada capaian jauh mendepan. Seorang visioner selalu berfikir dengan gagasan dan karya besarnya. Maka penyebutannyapun tak sekedar sebuah khayalan. Lebih cocok disebut impian. Christine Fald mengatakan, mimpi itu digerakkan oleh spirit untuk mengubah sesuatu keadaan, mengarahkan segala usaha-usahanya untuk mencapai tujuan. Sedang berkhayal lebih pada angan-angan yang tidak berdasar. (Chrintine Fald, 2008).Wallaahu a’lam.
Di sini, di tempat ini kita memiliki ruang space of possibility yang sangat luas. Bahkan ada banyak ruang-ruang campur tangan Allah SWT yang kita jumpai sebagai min khaitsu laa yahtasib ‘reality yang tak terbayangkan sebelumnya’. Sebab, sebelum kita memimpikanpun Allah telah menetapkannya. Yang terpenting adalah, ikhtiar-ikhtiar kita untuk menyambut ketetapan itu. Usaha-usaha untuk menggapai visi besar kita. Mimpi kita. Sebab, mimpi adalah bagian dari ikhtiar manusia. Sedang mimpi yang benar adalah mimpi yang spiritnya berangkat dari Yang Maha Menetapkan. Berangkat dari spirit ketaatan secara total kepada Allah (QS: Al-Hajj, 41-41). Bukan mimpi atas bisikan syaithan, dorongan nafsu dan ketamakan pada dunia. Itulah sebabnya diantara syarat-syarat kesuksesan dan tercapainya visi besar kita adalah memperkokoh hubungan kita dengan Allah SWT.
Kita telah menetapkan visi besar kita. Karena kita sedang memperluas space of possibility. Dairatul mumkinat-nya menjadi ruang yang terus kita isi dengan mimpi-mimpi dan gagasan mendepan untuk tercapainya visi lembaga kita. Bahwa mimpi yang terbimbing dengan nur ‘cahaya’ maunah-Nya selalu melahirkan mimpi yang akan menjadi kenyataan. “Kenyataan hari ini adalah mimpi kemarin, dan mimpi hari ini akan menjadi kenyataan hari esok” (Imam Hasan Al-Bana). Jadi, jika kita sudah mencanangkan mimpi besar kita; membangun peradaban. Lembaga kita ini menjadi rumah yang mendamaikan, penghuni-penghuninya comfortable. Hidup dalam tatanan masyarakat islami, semua kebutuhan tersedia, damai, berkeadilan dan berkesejahteraan sesuai dengan bingkai Islam. Dalam ruang amaliyah penddidikan, para guru-gurunya menjadi prigel dan kaya. Membangun sebuah lembaga pendidikan yang unggul tetapi murah. Dan ini adalah mimpi kita saat ini. Mimpi yang telah kita tetapkan. Sekali lagi berfikir visioner berarti ia telah memancangkan pilar berfikir; tidak ada yang tidak mungkin bagi seorang visioner. Nah, bagaimana dengan mimpi anda?.
ALL to CREw JN UKMI UNS 1431 H, mari berkreasi dan teruslah berimajinasi serta membawa bukti
Satu hal yang harus kita pikirkan, waktu akan terus berlari tanpa memandang apakah kita sedang bersemangat kerja, lesu, gembira atau mengantuk. Maka jangan sia-siakan waktu, lakukan pekerjaan sebaik-baiknya. Karena selalu ada jalan untuk melakukan pekerjaan kita dengan lebih baik. “There is a way to do it better…find it. Selalu ada jalan untuk bekerja dengan baik. Bekerja Dengan Cinta Untuk Meraih Ridho-Nya, Happy Abadan Full Barokah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar