Senin, 22 Oktober 2012

Menjaga Komitmen  Pada Tujuan Da'wah 




       Seperti sudah teman-teman saksikan di Video, itulah sebuah profil ideal seorang kader dakwah, semangat dalam menajalankan amanah tanpa rasa kenal, biarlah lelah yang lelah mengejar kita, demikian perupamaan yang sering muncul.
            Imam Al-Bana  Mengingatkan kepada kita semua : "Maka demi Allah, wahai saudaraku yang mulia, apakah kaum muslimin telah memahami itu dari kitab Al-qur'an?, sehingga jiwa mereka membumbung tinggi, terbebas dari perbudakan materialisme, bersih dari syahwat dan hawa nafsu, tidak terjebak  pada urusan-urusan sepele dan rendah, dapat mengarahkan wajah degan lurus kepada Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, menegakkan kalimat Allah, berjihad di jalannya, menyebarkan agama-Nya serta membela syariat-syariatNya?/ Ataukah mereka justru telah menjadi tawanan syahwat serta budak hawa nafsu dan keserakahan, yang dipikirkan hanyalah makanan yang lezat, kendaraan mewah, pakaian indahm tidur yang menyenangkan isteri yang cantik, penampilan parlente dan gelar-gelar seabrek serta pangilan-panggilan yang membuat kita bangga, Mereka merasa puas dengan angan-angan dan sibuk dengan kepentingan pribadi, Mereka bilang menyelami laut perjuangan. Tetapi mereka sedikitpun tidak tersentuh air. Sungguh benar ketika Rasul bersabda: Celaka budak pakaian" (Risalah ayyi syaiin nadu an-nas)/
             Sahabat juang yang dimuliakan oleh Allah, mari kita selami lebih dalam tentang sebuah kiat agar kita semua (terlebih yang menulis) tetap komitemen terhadap tujuan dakwah: paling tidak ada tiga prinsip yang harus pegang kuat-kuat :

  1. Ma'rifatul Ghayah (mengetahui tujuan), Allah adalah tujuan , da'wah yang kita lakukan hanyalah karena Allah, bukan karena jabatan, harta benda, kendaraan dan fasilitas lainnya, sehingga penampilan da'i adalah penampilan ahlullah, bukan penampilan ahluddunya, yang menjadi focus perhatiannya adalah memperbaiki niatnya dengan ikhlas dan bekerja sungguh-sungguh untuk keridlooan Allah, bukan mempebaiki penampilan fisik dan mencari perhatian publik. "katankanlah: "sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhan-ku kepada jalan yang lurus, yaitu agama yang benar, agama ibrahim yang lurus, dan ibrahim itu bukan termasuk orang-orang yag musyrik".

(TO BE Continued)






Jumat, 19 Oktober 2012

Etika Berkendaras Secara Rombongan (Touring)



    Enak rasanya ketika kita berlibur, atau melaksanakan kegiatan ke luar kota dengan berkendara, entah itu melaksankan kunjungan ke rumah teman untuk silaturahim atau melaksanakan rapat. Nah sering kita berangkat bareng-bareng pake motor (motoran) karena kebanyak dari kita memang kebanyakan punya kendaraan ini. Berangkat dari pengalamn dulu di organisasi sering keluar kota secara rombongan untuk melaksanakan kegiatan, memang banyak suka dukanya mulai teman-teman yang tidak on-time, etika berkendara yang tidak semua anak sama, main tinggal, jadi bingung lihatnya, apalagi kalau dalam rombongan itu ada anak putrinya, nah lo, mesti tanggung jawab juga tu.

   Oleh sebab itu bro and sis perlu tau dulu istilah-istilah berikut ini, dengan tujuan untuk menjamin agar perjalanan mengendarai sepeda motor secara bersama – sama, dapat berlangsung dengan selamat, tertib, dan aman. Prosedur ini berlaku untuk semua teman yan melakukan perjalanan bersama dengan jumlah sepeda motor lebih dari 5 ( Motor ) unit dan dalam 1 group. 

DEFINISI, yang dimaksud dengan :
  1. Road Kapten adalah pengendara sepeda motor yang memimpin perjalanan touring.
  2. Vorijder adalah pengendara sepeda motor yang memimpin barisan konvoi.
  3. Safety Officer adalah peserta touring yang ditunjuk oleh RC (Road Kapten) untuk mengamankan jalur atau jalan yang akan dilalui oleh peserta konvoi.
  4. Sweaper adalah peserta touring yang ditunjuk, untuk mengawasi dan mengamankan posisi peserta touring selama perjalanan.
  5. Technical Officer adalah peserta touring yang di tunjuk oleh RC sebagai petugas yang mengkoordinir bantuan teknis terhadap kerusakan teknis kendaraan peserta touring.
  6. Formasi adalah bentuk susunan pengendara sepeda motor dalam barisan selama perjalanan touring.


KETENTUAN UMUM, antara lain:

  1. Setiap pelaksanaan touring harus dipimpin oleh seorang RC dan setidak tidaknya dibantu oleh 1 (satu) orang Vorijder, 2 (dua) orang Safety Officer, 2 orang Sweaper, 1 orang Technical Officer.
  2. Road Kapten adalah pimpinan tertinggi dalam satu group pengendara sepeda motor yang melaksanakan touring.
  3. Semua peserta touring tanpa terkecuali harus mentaati etika touring sebagai berikut:
  • Datang dan berangkat tepat pada waktu yang telah ditentukan.
  • Mematuhi peraturan lalu lintas (dilarang keras menerobos lampu merah berhenti sembarangan, dll.)
  • Dilarang keras mengintimidasi pengguna jalan lain (memukul, menendang, melukai, meludahi, atau  bentuk2 arogansi lainnya)
  • Tidak saling mendahului atau berebut jalan.
  • Tidak melakukan manuver2 atau atraksi2 berbahaya saat touring berlangsung (lepas tangan, angkat ban, zig –zag, memainkan kenalpot berlebihan, dan aksi2 yang lainnya yang bisa membahayakan pengguna jalan lain dan anggota rombongan HMPC).
  • Memberikan kesempatan kepada pengendara lain yang secara terpaksa karena kondisi lalu lintas harus masuk dalam barisan konvoi.
  • Tidak menggunakan Sirine dan Klakson secara berlebihan terutama pada saat kondisi macet, kecuali untuk kondisi Emergency. (Sirine boleh di gunakan, jika menggunakan pengawalan Kepolisian, Surat Kepolisian, Menyalip Truck dan sejenisnya, Memberikan isyarat Touring dimulai atau memang dalam keadaan darurat).
  • Memberikan salam penghormatan dangan mengancungkan ibu jari kanan atau kiri atau membunyikan klakson 1 kali kepada polisi yang berugas di jalanan.
  • Kecepatan berkendara disesuaikan dengan kondisi jalan (batas maksimal 80 Km/jam, untuk luar kota, dalam kota 60 Km/jam).
  • Konvoi selalu diusahakan berada di jalur Kiri.(Dalam kondisi - kondisi tertentu, boleh menggunakan jalur kanan, dengan memperhatikan kondisi sekitarnya).
  • Memberikan isyarat Sopan saat meminta jalan kepada pengguna jalanlainnya, dan mengucapkan terima kasih dengan mengacungkan Ibu jari kanan atau kiri.
  • Waspada dan tetap konsentrasi selama berkendara.
  • Tidak Egois, pemaaf dan empaty (mengalah) terhadap pengendara lain (pengguna jalan).
  • Selalu menerapkan tata cara berkendara yang aman dan benar.
  • Dapat mempertahankan suasana hati yang Positif.
  • Selalu tenang dan tidak terpengaruh atas Provokasi dari pengendara lain.
  • Dapat mengontrol Emosi yang berubah ubah.
  1. Semua peserta touring tanpa terkecuali harus melengkapi kendaraannya minimal dengan kondisi sebagai berikut :
  • Kaca Spion harus lengkap serta berfungsi dengan baik.
  • Seluruh lampu harus berfungsi dengan baik, Ban kendaraan dalam kondisi layak jalan.
  • Rem depan dan belakang berfungsi dengan baik.
  • Klakson dan Reting (kanan dan kiri) berfungsi dengan baik.
  • Memiliki dan membawa surat2 kendaraan serta pengenal diri (STNK, SIM C, KTP).
  • Tools Kit standard tersedia.
  • Oli, Minyak Rem, Kampas Rem, dalam kondisi layak pakai.
  • Bahan Bakar Full.
  1. Semua peserta touring tanpa terkecuali harus dalam Kondisi Prima, tidak dalam pengaruh Obat2an dan Alkohol, Serta melengkapi diri minimal dengan kondisi sebagai berikut:
  • Menggunakan Helm Full Face atau Half Face, dengan kondisi yang layak pakai. (Dilarang menggunakan Helm Topi atau Cetok, atau tidak menggunakan helm sama sekali).
  • Menggunakan sarung tangan.
  • Menggunakan sepatu safety.
  • Memakai Body Protector, minimal Jaket tebal.
  • Membawa Jas Hujan.
  • Membawa perlengkapan P3K dan Obat2 kesehatan untuk keperluan Pribadi.
  • membawai pakaian ganti dan pakaian sholat, Al-qur'an
  1. Perlengkapan standard petugas touring adalah :
  • Rompi Spotlights (Warna Cerah atau memantul).
  • Sirine atau Klakson khusus.
  • Lampu rotator Warna kuning. (Jika ada)
  • RF Communicator.
  • Safety Flash Light.
  1. Urutan penempatan peserta Touring didalam Formasi didasarkan pada tingkat pengalaman mengikuti Touring, yang belum berpengalaman harus di tempatkan sedekat mungkin dengan Vorijder, demikian seterusnya.


Tanggung Jawab dan Wewenang



Road Kapten,

  • Membawahi Vorijder, Safety Officer, Sweaper dan Technical Officer.
  • Bertanggung jawab untuk membawa peserta touring ketujuan dengan selamat dan aman, di Bantu oleh petugas touring.
  • Membatalkan perjalanan atas dasar pertimbangan keselamatan dan keamanan perjalanan.
  • Atas dasar keselamatan dan keamanan, berhak menolak seorang anggota menjadi peserta Touring.
  • Menyusun rencana Route perjalanan, lama perjalanan, menentukan tempat penghentian sementara, peserta touring, petugas touring dan potensi bahaya.
  • Menyampaikan rencana Route perjalanan, lama perjalanan, menentukan tempat penghentian sementara, peserta touring, petugas touring dan potensi bahaya, kepada para peserta Touring.
  • Melaksanakan pemeriksaan kelayakan kondisi kendaraan para peserta Touring.
  • Memberikan isyarat dimulainya Touring.
  • Mengendalikan perjalanan Touring melalui isyarat Radio Komunikasi.
  • Menolak hubungan Radio yang di anggap tidak perlu.
  • Memberikan laporan perjalanan touring kepada Ketua HMPC Chapter dan Kepala Divisi Touring HMPC Lampung.
  • Dapat diwakilkan oleh peserta lain yang di tunjuk oleh RC. (Jika dalam kondisi kurang Prima, sakit, dan hal2 yang tidak di inginkan).

Vorijder,

  • Mengikuti intruksi Kapten.
  • Bertanggung jawab kepada Kapten.
  • Membawahi SafetyOfficer dan Sweaper.
  • Mengatur kecepatan dan arah perjalanan.
  • Mengatur formasi konvoi dengan memberikan isyarat Tangan atau RadioCm.
  • Meminta bantuan Safety Officer untuk melihat dan mengamankan kondisi lalulintas yang akan dilalui.


Safety Officer,

  • Bertanggung jawab kepada Road Kapten.
  • Memperhatikan kondisi lalu lintas serta kendaraan – kendaraan yanglain dan kemudian memberitahu Kapten, Vooridjer dan peserta Touring melalui Radio atau gerakan tangan tentang kemungkinan yang membahayakan dari bagian depan dan belakang konvoi, seperti misalnya kendaraan yang akan menyerobot jalur peserta konvoi dan truck yang akan menyalip serta bahaya terpaan angin yang di timbulkan.
  • Mengawasi jalur yang menyempit dan masuk ke jalur yang menyempit tersebut untuk ”menutup pintu” bagi kendaraan lain yang akanberbaur ke dalam Formasi.
  • Berganti atau pindah jalur sebelum peserta touring, untuk menyarankan jalur sehingga peserta toring dapat memasuki jalur perjalanan dengan aman.


Sweaper,

  • Bertanggung jawab kepada Kapten.
  • Memastikan peserta Touring tetap dalam Formasi barisan Konvoi.
  • Mengawasi Formasi dan memberitahu Kapten masalah yang mungkin terjadi pada Konvoi.
  • Mengatur Formasi agar tetap sesuai yang diinginkan Vooridjer.
  • Mengatur jarak antar peserta touring, sehingga Formasi touring tetap sebagai satu kesatuan barisan.
  • Memberikan bantuan / tanggapan atas kondisi emergency yang dialami oleh peserta Touring.
  • Mengingatkan peserta Touring bila melakukan pelanggaran Etika selama Touring.
  • Menanggapi tindakan provokatif yang mengganggu peserta Touring dari kendaraan lain, dan melaporkan setiap perkembangan situasinya kepada Kapten melalui radio atau aba2 tangan.


Tecnical Officer,

  • Bertanggung jawab kepada Kapten.
  • Mengkoordinir tersedianya bantuan teknis, baik berupa spare part maupun tenaga trampil.
  • Memberikan bantuan teknis terhadap terhadap kerusakanteknis yang di alami peserta touring, dan memberikan saran kepada Kapten apakah perjalanan Touring tetap diteruskan atau ditunda maupun di hentikan.


 Peserta Touring,

  • Mengetahui rute Touring, lama perjalanan dan tempat pemberhentian sementara.
  • Mengikui intruksi Vorijder dan sweaper, yang diberikan melalui isyarat Tangan, Kaki atau lingkungan sekitarnya yang dapat mengakibatkan terganggunya Touring.

FORMASI DAN ISYARAT


  1. Formasi 1
  • Formasi 1 adalah berbaris 1 kebelakang, yaitu peserta Konvoi berbaris 1 dari mulai terdepan (Vorijder) sampai ke belakang (Sweaper).
  • Isyarat yang digunakan untuk Formasi ini diberikan oleh Vorijder dengan mengangkat satu jari telunjuk tangan.
  • Isyarat ini harus di ikuti oleh peserta Touring.

  1. Formasi 2
  • Formasi 2 adalah berbaris 2 kebelakang, yaitu dimana peserta berbaris masing –masing 2 dari mulai barisan terdepan hingga ke belakang (Sweaper). Bila jumlah peserta ganjil, Sweaper atau petugas palingbelakang berada di tengah.
  • Isyarat yang digunakan untuk Formasi ini diberikan oleh Vorijder dengan mengangkat dua jari tangan.
  • Isyarat ini harus di ikuti oleh peserta Touring.

  1. Isyarat dimulainya Touring
  • Mengancungkan ibu jari, berarti kondisi motor dan pengendara siap untuk memulai Touring.
  • Isyarat ini diawali oleh Vorijder, kemudian diikuti oleh seluruh peserta touring untuk menyatakandirinya siap memulai Touring.
  • Kondisi siap berangka adalah, perlengkapan pengendara telah selesai dipakai (sarung tangan, helm, dll) mesin motor telah hidup, lampu depan telah hidup, lampu Hazard atau lampu sign kanan telah menyala.
  • Kapten melakukan Inspeksi hingga kebelakang barisan untuk memastikan semua peserta telah memberikan tanda siap (mengancungkan ibu jari).
  • Setelah memastikan peserta siap, jumlah peserta sesuai rencana, urutan peserta telah sesuai dan petugas Touring telah siap, maka Kapten kembali keposisinya kemudian memberikan isyarat keberangkatan kepada Vorijder dengan tanda mengancungkan ibu jari tangan.
  • Vorijder menyalakan Sirene atau Klakson sebagai tanda dimulainya Touring.

  1. Isyarat Selama Touring
  • Angkat tangan tegak lurus dengan jari – jari tangan terlihat (tidak mengepal), isyarat ini untuk tanda bahwa kondisi kendaraan atau pengendara mengalami gangguan. Isyarat ini terus disampaikan atau diacungkan hingga Petugas Touring mendekat. Isyarat ini tidak perlu di ikuti oleh peserta touring lainnya.
  • Angkat tangan tegak lurus dan melambai – lambai perpisahan, isyarat ini untuk tanda bahwa pengendara tersebut meninggalkan barisan. Isyarat ini tidak perlu diikuti oleh peserta lainnya. Cukup mengklakson 1 kali.
  • Mengarahkan Tangan ke arah Kanan atau Kiri, adalah tanda bahwa Konvoi berbelok ke arah Kanan atau Kiri. Isyarat ini disampaikan oleh Vorijder, dan diikuti oleh peserta Touring.
  • Mengangkat tangan dan mengayunkan ke arah depan, adalah tanda bahwa Konvoi bergerak lurus. Isyarat ini disampaikan oleh Vorijder, dan harus diikuti oleh semua peserta Touring.
  • Mengangkat telunjuk keatas dan memutar membentuk putaran, adalah tanda bahwa Konvoi berputar (U – Turn). Isyarat ini disampaikan oleh Vorijder, dan harus diikuti oleh peserta Touring.
  • Mengayunkan tangan ke arah bawah, adalah tanda unuk memperlambat kecepatan dan berhati – hati. Isyarat ini disampaikan oleh Vorijder, Safety Office serta Sweaper dan harus diikuti oleh peserta Touring.
  • Mengangkat tangan sambil mengepalkan jari tangan, adalah tanda untuk berhenti. Isyarat ini disampaikan oleh Vorijder, Safety Officer, Sweaper dan diikuti oleh semua peserta Touring.
  • Menurunkan tangan dan mengayunkan ke arah depan, adalah tanda agar mempercepat kendaraan. Isyarat ini disampaikan oleh Sweaper, dan tidak perlu diikuti oleh para peserta Touring.
  • Menurunkan Kaki Kiri atau Kanan, adalah isyarat adanya Hambatan atau Halangan di sisi Kiri atau di sisi Kanan. Seperti : Lubang, Jalan Rusak, Pembatas Jalan yang membahayakan dll. Isyarat ini diawali oleh Vorijder dan di ikuti oleh para peserta Touring.(Dilarang memberi tanda ke arah Pengguna jalan lain yang berada di jalur kanan lalu lintas).
  • Menurunkan kedua Kaki Kiri dan Kanan adalah isyarat adanya Hambatan atau Halangan. Seperti : Lubang, Jalan Rusak, Polisi Tidur, Perbatasan Jembatan, Rel Kereta Api, dll.
  • Mengangkat telunjuk dan menggerakkan seperti memotong leher, adalah tanda untuk para peserta mematikan mesin, tanda ini di sampaikan oleh Kapten dan di ikuti oleh peserta Touring.
  • Memberi Isyarat seperti menembak, adalah tanda agar Merapihkan Kendaraan,Isyarat ini disampaikan oleh Kapten.
  • Megancungkan jempol adalah isyarat penghormatan, Isyarat ini diawali oleh Vorijder dan diikuti oleh semua peserta Touring.
  • Jika melewati kendaraan lain, seperti Mobil, Motor ataupun Pejalan Kaki, jangan sampai menyentuh, dan hanya memberi isyarat tangan menyuruh minggir, dan meberi tanda jempol untuk Penghormatan.
  • Tangan Kanan atau Kiri menunjuk ke arah Kuping, adalah tanda untuk mematikan Sirine atau Klakson.
  • Memberi Isyarat seperti menunjuk kebawah mengunakan jempol diatas helm atau ke Tangki Motor, adalah tanda untuk mengisi BBM, Isyarat ini di lakukan oleh peserta Touring yang telah kehabisan BBM, dan tidak perlu diikuti peserta Touring. (Jika salah satu anggota Touring melakukan isyarat ini, Sweaper harus mendekati Peserta tersebut, dan memberikan berita Ke Vorijder.)

PERHATIAN !!! Pemberian isyarat, harus memperhatikan keselamatan diri sendiri, peserta Touring atau Konvoi dan Pengguna Jalan Lainya, sehingga tidak terjadi kecelakaan dikarenakan usaha menyampaikan Isyarat.


NB: Prosedur ini telah lulus tahap uji, dan di wajibkan oleh para anggota untuk mematuhinya dan melaksanakannya. Setiap kelalaian para petugas, akan di pantau oleh Pesertadan melaporkan ke Petugas Kapten, dan di lanjutkan dengan disidang dalam rapat pengurus, bukan dari para Peserta. Kepada petugas Sweaper, jika anda tertinggal, mohon dengan sangat, jangan panik, dan berkonsentrasilah diperjalanan, karena berbahaya bagi keselamatan Anda dan Orang lain. jangan lupa untuk tetap melaksanakan sholat dan banyak berdoa.



PENTING !!! Keselamatan anda ada ditangan anda Sendiri, dan kesalamatan Peserta, ada pada cara anda membawa diri di Perjalanan. Salam BikersBeriman





   

Kamis, 22 September 2011

materi Grand Opening LDK UNS (Pemuda dan Problematikanya)

powerd By 


Pemuda dalam tubuh umat adalah sumber kekuatannya, pembuat kemuliaannya, arsitek kehidupannya, tanda menuju masa depannya, karena mereka memiliki potensi dan kekuatan, memiliki banyak waktu dan keinginan, khususnya para pelajar yang -saat ini- telah selesai melaksanakan ujian. Pemuda yang memiliki kesempatan besar untuk mendapatkan pekerjaan dan amal yang sesuai keinginan mereka, ketika para pemilik ide dan hikmah di dalam tubuh umat memiliki proyek reformasi yang jujur, benar dan sesuai dengan aqidah umat, sejarahnya dan peradabannya, mereka selalu menghadirkan para pemuda; karena mereka akan terdorong dengan penuh semangat untuk mengemban amanah ini dan berjalan dengannya menuju realisasi dan kejayaan.

Demikianlah Ibnu Abbas mengabarkan kepada kita bahwa nabi saw bersabda pada saat perang Badar:

“Barangsiapa yang melakukan ini dan ini, dan berada di tempat ini dan ini maka ia akan mendapatkan ini dan ini, maka bersegeralah para pemuda menuju apa yang disebutkan, sementara para senior (orang tua) tetap berada menjaga bendera…(Nasa’I dan Baihaqi)

Ibnu Abbas berkata: Tidaklah Allah memberikan kepada seorang hamba ilmu pengetahuan kecuali kepada para pemuda, karena banyak kelebihan dan kebaikan yang terdapat di dalamnya”, kemudian beliau membaca firman Allah:
“Mereka berkata: Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim”. (Al-Anbiya:60)

dan firman Allah:
“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk”. (Al-Kahfi:13)

dan firman Allah:

“Dan Kami berikan kepadanya hikmah pada usia masih kecil”. (Maryam:12)

Oleh karena itu di antara prioritas dakwah reformasi yang penuh berkah kami ini adalah fokus pada pemuda, dan di antara karakteristiknya adalah kuatnya penerimaan para pemuda di berbagai tempat atas dakwah Ikhwan; beriman kepadanya, mendukungnya dan menolongnya, dan berjanji kepada Allah untuk bangkit dengan realistis dan bekerja di jalannya.
Beberapa ulama menggolongkan peranan pemuda Islam seperti di bawah ini :

1. Pemuda sebagai Generasi Penerus
Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun pahala amal mereka. (QS. Ath-Thur : 21)

2. Pemuda sebagai Generasi Pengganti
Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintainya (QS. Al-Maidah : 54)

3. Pemuda Sebagai Generasi Pembaharu (Reformer)
Ingatlah ketika ia (Ibrahim-pen) berkata kepada bapaknya : �wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong sedikitpun (QS. Maryam : 42)

Perbedaan jarak dan waktu bukan alasan bagi kita untuk menjadi generasi yang lemah. Contoh saja Yahya Ayyash, Imad Aqil, Izzudin Al Qasam, dan pemuda-pemuda Palestina lainnya, berkat ketangguhan, kesungguhan dan kedekatannya dengan Allah menjadikan mereka seorang mujahid muda Begitu juga dengan pemuda lainnya di berbagai tempat dan zaman.

PROBLEMATIKA
A. Atheisme dan Kafir Zindiq
B. Menuruti Hawa Nafsu
C. Lemahnya Semangat

A. Atheisme dan Kafir Zindiq
Sudah ada sejak sebelum jaman Fir’aun
Karl Max, Lenin
(Tiada tuhan, hidup ini hanyalah materi belaka)

Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

B. MENURUTI HAWA NAFSU
Botol Minuman Keras
Wanita Penggoda Syahwat
o (liat para wanita intifadah palestina)
Majalah Porno
Nyanyian Gombal dan Murahan
Musuh kita berkata:
“Sesungguhnya kita sudah menderita kerugian besar dalam berbagai medan pertempuran dengan kaum muslimin. Kita merugi ketika memerangi mereka dengan berbagai jenis rudal, kapal-kapal jet dan bom. Jadi, di hadapan kita hanya ada satu cara lagi untuk memerangi mereka, yaitu perang dengan botol arak, perempuan, nyanyian dan majalah amoral.”

C. LEMAH SEMANGAT
Lebih bangga thd negara lain
Inferior akan kemampuan diri dan bangsa sendiri
Malas beribadah
Malas belajar
Mudah menyerah

Perkataan Orang Kafir
Warga Amerika bernama Cruise Mayerson mengatakan dalam bukunya “Manusia Tidak Dapat Berdiri Sendiri”

o “Wahai kaum muslimin, kami (amerika) telah menghasilkan kapal terbang, AC, Kulkas dll, tetapi kalian dengan islam kalian belum mempersembahkan apapun untuk kami”
Dale Carnegie mengatakan “Orang amerika membaca lebih daripada duabelas jam dalam duapuluh empat jam”
Moshe Dayan “Bangsa Arab adalah sebuah komunitas bangsa yang tidak membaca”

Beginilah Seharusnya Generasi Muda

Butuh murobbi untuk membimbing pemuda o (Kisah lelaki menghadap nabi ingin islam dan zina)
Mentarbiyah diri
Memperhatikan Amalan Fardhu
Menghidupkan semangat keteladanan pada nabi
Menanamkan Makna Ukhuwah
Menjauhkan Perbuatan Tercela
Berdakwah
Menguasai IPTEK

CIRI PEMUDA HEBAT
Aqidah Lurus
Hamasah
Quwwatul Jasad
Qolban Salima
Aqlan Dzakiyan

CONTOH PEMUDA
Nabi Muhammad
Nabi Yusuf
Nabi Ibrahim
Al Miski
Anas bin Malik
Ashabul Kahfi
Penemu Al Jabar :Al Khuwarizimi
Ahli Kedokteran : Ibnu Sina
Ilmu Perbintangan: Ibnu Khaldun


“Saya wasiatkan para pemuda kepadamu dengan
baik, sebab mereka berhati halus. Ketika Allah mengutus diriku untuk
menyampaikan agama yang bijaksana ini, maka kaum mudalah yang
pertama-tama menyambut saya, sedang kaum tua menentangnya.” (Al Hadist)

“Pemuda adalah simbol hati yang masih
jernih sehingga memiliki keyakinan dan iman yang kuat, kejujuran yang
memungkinkan untuk memiliki ketulusan dan keikhlasan dalam beramal,
serta semangat yang menggebu yang memungkinkan untuk beramal dengan
sungguh-sungguh dan penuh dengan pengorbanan” (Hasan Al Banna).

Sejak dulu hingga sekarang pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap kebangkitan, pemuda merupakan rahasia kekuatannya. Dalam setiap fikrah, pemuda adalah pengibar panji-panjinya....Berikan 10 pemuda akan aku rubah dunia kata Ir Soekarno...

Barangsiapa yang tidak pernah mencicipi pahitnya belajar, maka dia akan meneguk hinanya kebodohan di sepanjang hidupnya. Barangsiapa yang tidak menuntut ilmu di masa muda...Maka bertakbirlah empat kali, karena sungguh dirinya telah wafat (Diwan al Imam asy Syafi’i, Dar al Kutub al ’Ilmiyah).

Sabtu, 16 Juli 2011

boneka kerdus yg lucu

Danbo?? Apa itu Danbo? Danbo adalah kepanjangan dari Danboard yang merupakan salah satu 'action figure' dari seri Revoltech dan diproduksi oleh perusahaan Kaiyodo di Jepang. Action figure merupakan mainan berpose dan memiliki karakter yang sering diambil dari tokoh-tokoh pada film, komik, manga, anime, video game atau acara televisi. Kebanyakan terbuat dari plastik, walaupun ada juga yang menggunakan bahan material lain. Kata 'Revoltech' itu sendiri merupakan gabungan dari 'Revolver Technology', karena pada seri ini menggunakan 'Revolver Joint' untuk sistem persendian pada tiap action fugure-nya. Penggunaan 'revolver joint' dapat memberikan kestabilan dan dimensi gerakan yang lebih luas, sehingga sangat memungkinkan action figure tersebut berpose secara dinamis dan bervariasi. Seri Revoltech pertama kali dirilis oleh Kaiyodo pada bulan Mei 2006, dan berlanjut mengeluarkan dua buah action figure seri Revoltech baru pada tiap bulannya. Untuk Danbo, Kaiyodo mengeluarkan tiga jenis, yaitu 2nd Generation Edition bernama Danboard (Miura Hayasaka in cardboard box suit) di tahun 2007, Limited Edition bernama Danboard with Amazon logo di tahun 2007 dan Danboard with 7-11 logo di tahun 2008.
Danbo sendiri di jepang dijual dengan harga mulai dari 5000 yen atau sekitar Rp. 500.000 rupiah per bijinya. Dalam serial manganya danbo mungil ini dapat bergerak ketika ada koin yang dimasukan kedalam mulutnya. Anda tertarik memilikinya? Saat ini boneka kardus ini bisa dipesan Online di Amazon.jp. Dasar Danbo, bikin gemes aja.

Kamis, 14 Juli 2011

ES JERUK PELEPAS DAHAGA (MOTIVASI UNTUK TETAP BERGAIRAH DALAM BEKERJA)

Setiap hari kita menghabiskan banyak waktu untuk bekerja, entah di kantor, pasar, sawah, lapangan atau di manapun kita berada. Seorang karyawan misalnya, rata-rata ia akan menghabiskan waktu 8 jam setiap hari. Delapan jam adalah waktu yang sangat panjang dan melelahkan bila kita tidak menikmati pekerjaan, tidak bersemangat, sedih, lesu, dan mengantuk. Seandainya dipaksakan pun hanya akan membuang waktu dan tenaga, karena hasilnya tidak akan maksimal.
Jenuh dan tidak menikmati pekerjaan adalah hal yang lumrah dalam kehidupan manusia. Tetapi kita harus pandai menyiasati agar hal tersebut tidak berlarut-larut dan menghambat produktivitas kita. Ada 7 kiat agar kita dapat menikmati pekerjaan dan mudah mengatasi kejenuhan, untuk mendapatkan hasil pekerjaan yang optimal.
Langkah pertama sebelum memulai bekerja adalah mencintai pekerjaan kita terlebih dahulu. Bermacam faktor dapat memicu kejenuhan, sehingga kita tidak dapat menikmati pekerjaan. Tetapi bila kita mencintai pekerjaan yang sedang kita tekuni, maka kita akan merasa lebih berarti, karena pada dasarnya setiap orang di dunia ini memiliki peran dan sama-sama penting.
Mencintai pekerjaan juga akan mendorong semangat kita untuk bekerja dengan penuh tangung jawab. Mengutip kata-kata seorang guru etos kerja Indonesia, Jansen Sinamo, “Kerja adalah amanah, Anda harus bekerja dengan benar dan penuh tanggung jawab.” Bertanggung jawab dalam arti melakukan apa yang terbaik seringkali berdampak nyata terhadap peningkatan kualitas hasil pekerjaan sekaligus semangat kerja kita.
Realitas kehidupan kerja juga tidak lepas dari berbagai macam hambatan, entah dalam bentuk persaingan atau sabotase, kurangnya fasilitas dan modal, tekanan dari atasan dan lain sebagainya. Tak jarang hambatan atau dalam bahasa positif disebut dengan `tantangan’ menjadikan kita tidak menikmati pekerjaan. Tetapi jangan pernah sekalipun membiarkan tantangan dalam pekerjaan menghambat kinerja kita.
Langkah yang dapat kita tempuh dalam menghadapi tantangan adalah berpikir positif. Dengan berpikir positif, kita akan melihat
tantangan sebagai jalan untuk meningkatkan kualitas diri kita. Pepatah bijak dari Jepang sebagaimana dikutip dalam The Prentice Hall Encyclopedia of World Proverb menyebutkan, “Adversity is the foundation of virtue  Tantangan adalah dasar dari kebaikan. ” 
Artinya, kita akan dapat menjaga semangat kerja tetap tinggi dan menikmati pekerjaan dengan selalu berpikir positif.
Selain itu, kenikmatan dalam menjalankan pekerjaan di antaranya dipacu oleh kemampuan yang kita miliki. Bila pekerjaan menuntut tingkat kemampuan tertentu, sementara kemampuan kita sendiri terbatas akan sangat mudah memicu suasana kerja yang menjemukan atau tidak menyenangkan. Alangkah baiknya jika kita selalu meningkatkan kemampuan, mengasah keahlian dan mengisi pikiran dengan informasi atau ilmu pengetahuan terbaru.
Langkah tersebut akan berpengaruh terhadap cara kita menyelesaikan pekerjaan, misalnya cara yang kita lebih bervariasi dan kreatif. Cara kerja yang kreatif lebih memastikan kita senang mengerjakan tugas kita. “…even without success, creative persons find joy in a job well done. Learning for its own sake is rewarding… – …meskipun tanpa kesuksesan, orang yang kreatif sangat menikmati pekerjaan yang dapat ia selesaikan dengan baik… Belajar hanya untuk meningkatkan kreatifitas akan selalu bermanfaat,” kata Mihaly Csikszentmihalyi.
Sementara langkah lain yang bisa kita tempuh untuk dapat menikmati pekerjaan adalah memupuk sikap konsisten. Seperti dikatakan sebelumnya bahwa kehidupan di dunia kerja sarat dengan aneka tantangan. Tetapi bila kita selalu bersikap konsisten terhadap tujuan semula, yaitu menghasilkan pekerjaan terbaik, maka keresahan, kekhawatiran, kebosanan dan segala yang kurang menyenangkan dalam pekerjaan akan tergantikan dengan rasa tenang dan senang. Pada akhirnya sikap konsisten tersebut menjadikan kita lebih maju dalam bidang pekerjaan kita.
Langkah selanjutnya adalah menetapkan skala prioritas dalam pekerjaan. Kerjakan tugas yang terpenting, dan menyelesaikannya sesuai dengan batas waktu yang sudah kita tentukan sendiri. Patuhilah target deadline atau batas waktu, dan kita patut malu jika melanggarnya. Dengan demikian, kita akan terpacu untuk segera menyelesaikan pekerjaan tanpa merasa terbebani.
Sementara itu, kita tidak dapat memungkiri bahwa kita selalu membutuhkan dukungan orang lain. John Ruskin menerangkan, “Every great man is always being helped by everybody, for his gift is to get good out of all things and all persons. Setiap orang yang hebat selalu didukung oleh orang lain, karena kebaikan yang ia dapatkan bersumber dari bermacam sebab dan dukungan orang lain.” Kecerdasan dalam mengelola hubungan dengan orang-orang dalam lingkungan sangat berpengaruh terhadap suasana psikologis kita saat bekerja, terlebih terhadap hasil pekerjaan.
Maka langkah yang harus kita tempuh adalah menciptakan suasana kerja yang komunikatif. Luangkan waktu setidaknya untuk mendengar dan berusaha memahami harapan dan persoalan yang sedang dihadapi oleh orang-orang dalam lingkup pekerjaan kita. Dengan demikian akan tercipta saling pengertian dan jalinan keakraban, yang pada akhirnya melahirkan suasana menyenangkan dalam bekerja.
Mungkin salah satu sebab kita tidak bersemangat kerja, bosan, malas dan lain sebagainya dikarenakan potensi kita kurang diberdayakan atau kurang dihargai. Kalau saja potensi itu digabungkan dengan semangat kerja, pasti hasilnya sangat mengagumkan. Maka langkah yang bisa kita tempuh adalah mencoba saling memotivasi dan menghargai sesama rekan
kerja, atasan, bawahan maupun kolega kerja.
Motivasi dan penghargaan tidak saja menciptakan keakraban dalam lingkungan kerja, tetapi juga mengobarkan semangat untuk berpacu dalam prestasi. “Motivation is the fuel, necessary to keep the human engine running. Motivasi adalah bahan bakar, sangat penting untuk menghela semangat kerja manusia,” kata Zig Ziglar. Dengan saling menghargai dan memotivasi, kita akan senantiasa mendapatkan sumber semangat untuk lebih giat bekerja.
Satu hal yang harus kita pikirkan, waktu akan terus berlari tanpa memandang apakah kita sedang bersemangat kerja, lesu, gembira atau mengantuk. Maka jangan sia-siakan waktu, lakukan pekerjaan sebaik-baiknya. Tujuh kiat di atas akan membantu kita bekerja dengan lebih baik, karena selalu ada jalan untuk melakukan pekerjaan kita dengan lebih baik. “There is a way to do it better…find it.  Selalu ada jalan untuk bekerja dengan baik…carilah,” kata Thomas Edison.
Sumber: Mengatasi Kejenuhan & Menikmati Pekerjaan oleh Andrew Ho.

Senin, 11 Juli 2011

belajar menghargai waktu dengan mengetahui skala prioritas

 Waktu adalah kehidupan,
Waktu adalah pilihan kemakmuran atau kehancuran
Setiap hidup dibatasi siang
Saat istirahat dipagari dengan malam
Saat muda akan bertemu dengan masa tua
Dan saat hidup pasti akan berujung dengan kematian
Maka, susnguh waktu sebagai satu-satunya pertaruhan
Waktu adaah kehidupan  
    pribadi ini di bangun di atas berbagai pilar, yaitu kemurnian akidah, benarnya ibadah, luasnya tsaqafah intelektual, kokohnya akhlaq, kekuatan fisik, kemampuan mencari penghasilan, mujahaddah terhadap jiwa, memberi manfa'at pada orang lain, perhatian pada waktu, dan kerapian dalam semua urusan.
    persoalan waktu serta tingkat urgensinya dalam realitas kita, awalnya kecil dan tak terbatas. akan tetapi, ia berkembang dan bergerak cepat, hingga menjadi hal nyata yang tidak mungkin kita hindari, atau kita abaikan
    dalam tulisan ini ane hendak memaparkan kaidah-kaidah aplikatif yang mengantarkan pada kesuksesan mengelola waktu secara bertahap, selangkah demi selangah sampai pada tingkat mahir dan apik dalam mengelola manajemen waktu.
    yuk kita simak uraian kata di bawah ini, semoga bermanfaat :
Langkah Pertama : kita perlu nich menganalisa sikap kita terhadap manajemen waktu dan mengenali sejauh mana  kemampuan kita dalam mengelola waktu. langkah ini sangat penting dan mendasar, sebab target kita adalah tercapainya efisiensi waktu. jika, kita telah mengelola waktu secara efektif.
Langkah Kedua : sebalinya sobat, apabila manajemen waktu dan efektivitas pemanfaatan waktu kita masih lemah, maka sangat perlu mengkaji adalah kita perlu menghayati urgensi waktu dan sejauh mana kebutuhan kita pada manajemen waktu. juga yang tidak kalah penting kita juga perlu memahami pemanfaatn waktu secara optimal, artinya optimalisasi hidup kita, sebab waktu merupakan modal dasar, apabila kita tidak mampu mengelolanya, maka kita tidak akan mampu mengelola sesuatu apapun.
    selanjutnya kita beralih ke Langkah Ketiga adalah belajar menyusun skala prioritas, komitmen pada kewajiban waktu dan mengatasi sikap menunda-nunda pekerjaan.
Langah Keempat adalah mengenali hal-hal yang kita butuhkan dalam mengelola waktu secara efektif dan menjadikannya sebagai pusat perhatian serta titik tolak dalam memenuhi perubahan.
langkah Kelima adalah mengenali hal-hal yang dapat menggangu manajemen waktu dan melemahkan kemampuan, sehingga kita dapat menghindarinya.
Langkah Keenam adalah mengenali cara mengatasi hal-hal yang dapat menyia-nyiakan waktu, biasanya, hal-hal itu muncul dari dua sumber yaitu lingkungan sekitar dan diri kita sendiri
Langkah Ketujuh adalah mengkaji cara meluruskan persepi kita yang keliru terhadap efisiensi waktu. di sini kita dapat memahami bahwa yang bermasalah buka waktu , tetapi cara pemanfaatannya.
Langkah Kedelapan adalah bagaimana memimpin rapat (meeting) dengan baik, meeting merupakan hal terpenting serta sarana komunikasi yang menghabiskan mayoritas waktu direktur, sebagai contoh kita bisa memberikan point-ponit penting kepada peserta meeting satu hari sebelum pelaksaan meeting sehingga peserta meeting bisa berfikir sebelum hari H.
Langkah Kesembilan adalah bagaimana mendelegasikan kerja dan tanggung jawab secata efektif.
Langkah Kesepuluh adalah belajar mengoptimalkan waktu santai sebagaimana mengoptimalkan waktu lelah, sebab hidup yang teratur dapat memberi peluang waktu untuk melakukan berbagai hal.
Langkah Kesebelas adalah mengkaji dan meneladani kisah manajemen waktu dari tokoh-tokoh yang berhasil dalam mengelola waktu, serta contoh applikatif tentang manajemen waktu yang efektif dan aplikasinya di lapangan.
Langkah Kedua belas spesial untuk yang udah punya anak nich, yang belum nikah dulu, eh malah nglantur oke kembali ke lappppppppppppp. laporan ? tulisan maksudnya, yaitu mendidik anak-anak agar menghargai waktu, sebab, keunggulan kita tersimpan pada kemampuan menjadikan orang-orang disekitar kita berjalan menuju satu gawang (GOLLLLLLLLLLLLL)--> satu sasaran bersama kita
Langkah ketiga belas adalah bagaimana melatih orang lain agar mampu memanfaatkan waktu secara optimal, teman-teman bisa mengikuti program pelatihan untuk meningkatkan perhatian pada urgensi waktu. juga memberi aspek-aspek pada peningkatan tersebut.
selamat mencoba sahabat.

Kamis, 17 Februari 2011

hikmah dalam dakwah

Bicara mengenai dakwah, tak akan lepas dari satu hal ini, yaitu hikmah. Hikmah ini bukanlah seberapa besar kebaikan yang diberikan. Hikmah adalah bagaimana kita peka terhadap kebutuhan mad’u/obyek dakwah. Seberapa manfaat yang dapat diberikan pada mad’u. Kemudian karenanya mad’u terlekatkan hatinya pada dakwah, kebenaran, dan kebaikan.
Ada sebuah cerita yang menggambarkan hikmah. Alkisah, di Amerika ada ibu yang tua dengan 3 orang anak. Ketiga anak ini ingin membahagiakan ibu mereka dengan cara memberikannya hadiah. Anak pertama memberikan rumah yang sangat mewah dan luas. Anak ini berpikir ibunya sudah tua dan ingin menikmati kehidupannya di rumah. Anak kedua berpikir,”Ah,ibu kan suka jalan-jalan, aku belikan mobil saja,kalau begitu”. Akhirnya dibelikanlah mobil mewah untuk ibunya. Anak ketiga berpikir lain. Ia tahu kalau ibunya suka membaca bibel, namun matanya sudah mulai rabun. Memberinya kacamata pun tidak menolong. Maka Ia menghadiahi ibunya burung beo yang bisa membacakan ayat-ayat dalam bibel. Tinggal sebutkan nama surat, maka beo itu akan membacakan ayat yang dimaksudkan.
Apa yang terjadi? Ternyata hadiah dari anak pertama tidak disukai ibu mereka, karena ibu mereka sudah tua dan capek saat berjalan di dalam rumah itu. Mengingat rumah yang diberikan sangatlah luas, sehingga merepotkan. Pun dengan hadiah dari anak kedua. Ibu mereka mengeluhkan saat naik mobil tidak bisa menikmati pemandangan di jalan. Bahkan, masuk ke dalam mobil saja sudah terlelap. Belum lagi sopir pribadi yang menyetir mobil itu sering ngomel-ngomel karena ibu mereka sudah makin lamban dalam berjalan.
Terhadap hadiah yang diberikan anak ketiga, ibu tersebut malah mengatakan,”Nak, terimakasih banyak,ya.. Ayamnya enak sekali”…Hehehe..mungkin sepertinya jayus, tapi mungkin seperti itulah hikmah. Tergantung seberapa besar manfaat yang diberikan.
Nah, dakwah ini bisa menggunakan nasehat yang baik (mau’idhatul hasanah) . Namun, nasehat yang baik juga belum bisa mengalahkan dakwah dengan hikmah. Misalnya saja nasehat baik yang diberikan seorang da’i. Bisa saja yang dinasehati berkata,”Memangnya kamu siapa? Bapak-ibu saya yang tiap hari memberi saya makan saja nggak se-cerewet ini,kok”.
Belum lagi jika dakwah ini menggunakan metode debat dengan bahasa yang baik. Sebaik-baiknya debat, kemungkinan orang yang di-dakwahi untuk berubah belum tentu besar. Kebanyakan malah tetap pada pendiriannya.
Dalam hal metode dakwah ini, kita bisa merunut kisah nabi Ibrahim as. Pada masa mudanya, nabi Ibrahim menggunakan cara yang “anarkis” dalam berdakwah, menghancurkan berhala dan mengalungkan kapak yang digunakan untuk menghancurkan ke berhala yang terbesar. Hingga saat nabi Ibrahim as ditangkap oleh Raja Namrud dan ditanya siapa yang menghancurkan berhala-berhala tersebut, Ibrahim as balik menyuruh Raja Namrud untuk menanyakan ke berhala yang paling besar. “Mana mungkin berhala yang tak bisa bicara itu menjawabnya”,kata Namrud. Dan Ibrahim as menjawab dengan mantap,”Menjawab pertanyaan saja tidak bisa, kok disembah” (mungkin dalam bahasa kita bisa diterjemahkan seperti ini). Peristiwa ini yang membuat Ibrahim as dibakar dalam api, yang kemudian bisa selamat. Jadi, kalau kita yakin diselamatkan dari bahaya, boleh-boleh saja berdakwah secara “anarkis”.
Beranjak dewasa, Ibrahim as makin matang dalam menjalankan dakwahnya. Hingga pada akhirnya mendakwahi para penyembah bintang, bulan,dan matahari dengan cara berbaur dengan mereka, namun tidak melebur bersama mereka. Sebuah kisah yang sering kita dengar sebagai kisah pencarian Tuhan oleh nabi Ibrahim sebenarnya adalah kisah dakwah nabi Ibrahim ketika dewasa. Awalnya pada penyembah bintang, beliau as. Berkata”Mungkin inilah Tuhan kita”, lalu saat bintang menghilang, disangkalnya pendapat yang telah dikatakan. “Bukan,ini bukan Tuhan. Kalau dia ada adalah Tuhan, tidak mungkin dia menghilang”. Begitu pula yang dikatakan beliau as. Pada penyembah matahari dan bulan. Hingga ditariklah kesimpulan bahwa Tuhan bukanlah bintang, matahari, maupun bintang, namun Tuhan adalah yang menciptakan bintang, matahari, dan bulan.
Ibrahim as. yang makin dewasa makin melembutkan metode dakwahnya, dan memperluas cakupan dakwah beliau. Kisah ini memberiakan contoh bahwa dakwah sebaiknya dijalankan dengan cara-cara yang baik, bukan cara anarkis.
Kemudian bicara mengenai ruh dakwah. Bagaimana ruh dakwah itu? Ruh dakwah adalah orang memiliki kebaikan dan menyebarkannya ke sekelilingnya. Seperti orang memiliki sebuah keburukan, contohnya wanita berzina, pasti ingin agar orang-orang di sekelilingnya juga memiliki keburukan serupa,berzina. Begitu juga orang yang memiliki sebuah kebaikan. Pasti ingin orang di sekelilingnya juga melakukan/memiliki kebaikan yang dia lakukan. Hanya saja, dalam menyebarkan kebaikan/dakwah ini jalannya panjang dan tidak tahu dimana ujungnya, banyak masalahnya, dan sedikit orang yang mau melakukannya.
Dengan karakter dakwah yang seddemikian rupa, dibutuhkan sillah billah /hubungan dengan Alloh SWT yang baik. Kita ambil kisah Rasulullah SAW. Beliau adalah da’i yang disibukkan dengan berbagai urusan. Sebagai suami, dia disibukkan untuk urusan keluarga, bekerja, mengurusi ini-itu. Beliau SAW juga mendapatkan tekanan yang sangat besar. Dimusuhi keluarga, sahabat-sahabatnya disiksa dan beliau tak mampu menolong, jalan di sekitar rumah beliau ditaburi duri-duri, dan berbagai hal yang tidak mengenakkan.
Dalam keadaan seperti itu, Alloh SWT justru tidak membiarkan Rasulullah SAW beristirahat dengan tenang, mandi air hangat disertai aromatherapy, dan tidur di tempat yang nyaman. Alloh SWt justru menyuruh beliau untuk bangun di sebagian malamnya, dan membaca al-Qur’an. Mengapa Alloh memerintahkan hal ini? Tentunya karena kelak Rasulullah SAW akan mendapatkan Qaulan tsaqila/perkataan yang berbobot/perkataan yang berat/al-Qur’an, dimana gunung pun hancur saat menerima perkataan yang berbobot ini. Itulah mengapa, Alloh SWT tidak ingin hati Rasulullah hancur saat menerima risalah ini.
Nah,produk dari ibadah ini adalah akhlaq yang mulia. Maka, kata Ibnu Ath-Thailah, orang yang baik adalah yang tidak menampakkan ibadahnya, namun akhlaqnya baik. Jangan kemudian kita menampakkan amal-amal ibadah kita, namun akhlaq yang kita tampakkan tidak mencerminkan banyaknya ibadah yang tidak ditampakkan. Tidak ramah, kerja tidak profesional, tidak amanah, dll.
Kembali pada pembicaraan mengenai dakwah, maka ada beberapa kaidah yang harus diperhatikan oleh para da’i. Kaidah ini berjumlah 10 butir, dan termaktub dalam buku FIQH DAKWAH karangan Jum’ah Amin Abdul Aziz.
1. Keteladanan sebelum seruan
2. Mengikat hati sebelum menjelaskan
3. Mengenalkan sebelum memberi beban
4. Bertahap dalam pembebanan
5. Memudahkan, bukan menyulitkan
6. Yang pokok sebelum cabang
7. Membesarkan hati sebelum memberi ancaman
8. Memahamkan, bukan mendikte
9. Mendidik, bukan menelanjangi
10. Muridnya guru, bukan muridnya buku.
Sebuah pembahasan mengenai kaidah nomer 1, keteladanan sebelum seruan. Bahwa hendaklah da’i itu menampakkan keteladanannya sebelum menyeru kepada orang lain. Ada sebuah ungkapan yang harus kita ingat, yaitu “Perbaikilah dirimu, dan serulah orang lain”. Ada kisah mengenai kaidah ini. Adalah Hasan Al-Bashri, diminta berkhutbah Jumat oleh para budak mengenai pembebasan budak. Pekan pertama, belum berbicara masalah itu. Pekan kedua juga belum membicarakan hal itu. Para budak mulai tak sabar pada pekan ketiga, hingga akhirnya pekan keempat, Hasan Al-Bashri baru membicarakan mengenai pembebasan budak. Apa sebabnya? Ternyata beliau sedang mengumpulkan uang untuk membeli budak. Baru pada pekan keempat, beliau sudah mampu membeli budak dan membebaskannya, tepat beberapa saat sebelum khutbah jumat dimulai.
Seorang ustadz senior di Yogyakarta, Ustadz Cholid Mahmud, termasuk yang soft dalam mendidik anak-anaknya. “Ah,kami dulu juga mendapat hidayah baru waktu kuliah kok. Mereka kan masih umur segitu, jadi nggak masalah kalau diberi kebebasan”,kata beliau. Namun, justru dengan cara seperti ini anak-anak beliau jadi “beres”. Tidak seperti ustadz lain yang lebih keras dalam mendidik anaknya. Apalagi ada yang bercerita mengenai nostalgia perjuangan dakwah jaman dahulu. Padahal, jaman memang sudah berubah. Kondisi sekarang dengan dahulu tentu berbeda. Tentu kondisi orangnya juga berbeda. Dapat disimpulkan bahwa kurang baik untuk menghakimi “junior” dengan nostalgia jaman dahulu.
Mungkin segini yang dapat saya rangkum, mohon maaf sekali jika pembahasannya terkesan “lompat-lompat”. Terimakasih atas perhatiannya. Semoga yang membaca dapat mengambil hikmah dari yang saya ketikkan disini.