Kamis, 17 Februari 2011

hikmah dalam dakwah

Bicara mengenai dakwah, tak akan lepas dari satu hal ini, yaitu hikmah. Hikmah ini bukanlah seberapa besar kebaikan yang diberikan. Hikmah adalah bagaimana kita peka terhadap kebutuhan mad’u/obyek dakwah. Seberapa manfaat yang dapat diberikan pada mad’u. Kemudian karenanya mad’u terlekatkan hatinya pada dakwah, kebenaran, dan kebaikan.
Ada sebuah cerita yang menggambarkan hikmah. Alkisah, di Amerika ada ibu yang tua dengan 3 orang anak. Ketiga anak ini ingin membahagiakan ibu mereka dengan cara memberikannya hadiah. Anak pertama memberikan rumah yang sangat mewah dan luas. Anak ini berpikir ibunya sudah tua dan ingin menikmati kehidupannya di rumah. Anak kedua berpikir,”Ah,ibu kan suka jalan-jalan, aku belikan mobil saja,kalau begitu”. Akhirnya dibelikanlah mobil mewah untuk ibunya. Anak ketiga berpikir lain. Ia tahu kalau ibunya suka membaca bibel, namun matanya sudah mulai rabun. Memberinya kacamata pun tidak menolong. Maka Ia menghadiahi ibunya burung beo yang bisa membacakan ayat-ayat dalam bibel. Tinggal sebutkan nama surat, maka beo itu akan membacakan ayat yang dimaksudkan.
Apa yang terjadi? Ternyata hadiah dari anak pertama tidak disukai ibu mereka, karena ibu mereka sudah tua dan capek saat berjalan di dalam rumah itu. Mengingat rumah yang diberikan sangatlah luas, sehingga merepotkan. Pun dengan hadiah dari anak kedua. Ibu mereka mengeluhkan saat naik mobil tidak bisa menikmati pemandangan di jalan. Bahkan, masuk ke dalam mobil saja sudah terlelap. Belum lagi sopir pribadi yang menyetir mobil itu sering ngomel-ngomel karena ibu mereka sudah makin lamban dalam berjalan.
Terhadap hadiah yang diberikan anak ketiga, ibu tersebut malah mengatakan,”Nak, terimakasih banyak,ya.. Ayamnya enak sekali”…Hehehe..mungkin sepertinya jayus, tapi mungkin seperti itulah hikmah. Tergantung seberapa besar manfaat yang diberikan.
Nah, dakwah ini bisa menggunakan nasehat yang baik (mau’idhatul hasanah) . Namun, nasehat yang baik juga belum bisa mengalahkan dakwah dengan hikmah. Misalnya saja nasehat baik yang diberikan seorang da’i. Bisa saja yang dinasehati berkata,”Memangnya kamu siapa? Bapak-ibu saya yang tiap hari memberi saya makan saja nggak se-cerewet ini,kok”.
Belum lagi jika dakwah ini menggunakan metode debat dengan bahasa yang baik. Sebaik-baiknya debat, kemungkinan orang yang di-dakwahi untuk berubah belum tentu besar. Kebanyakan malah tetap pada pendiriannya.
Dalam hal metode dakwah ini, kita bisa merunut kisah nabi Ibrahim as. Pada masa mudanya, nabi Ibrahim menggunakan cara yang “anarkis” dalam berdakwah, menghancurkan berhala dan mengalungkan kapak yang digunakan untuk menghancurkan ke berhala yang terbesar. Hingga saat nabi Ibrahim as ditangkap oleh Raja Namrud dan ditanya siapa yang menghancurkan berhala-berhala tersebut, Ibrahim as balik menyuruh Raja Namrud untuk menanyakan ke berhala yang paling besar. “Mana mungkin berhala yang tak bisa bicara itu menjawabnya”,kata Namrud. Dan Ibrahim as menjawab dengan mantap,”Menjawab pertanyaan saja tidak bisa, kok disembah” (mungkin dalam bahasa kita bisa diterjemahkan seperti ini). Peristiwa ini yang membuat Ibrahim as dibakar dalam api, yang kemudian bisa selamat. Jadi, kalau kita yakin diselamatkan dari bahaya, boleh-boleh saja berdakwah secara “anarkis”.
Beranjak dewasa, Ibrahim as makin matang dalam menjalankan dakwahnya. Hingga pada akhirnya mendakwahi para penyembah bintang, bulan,dan matahari dengan cara berbaur dengan mereka, namun tidak melebur bersama mereka. Sebuah kisah yang sering kita dengar sebagai kisah pencarian Tuhan oleh nabi Ibrahim sebenarnya adalah kisah dakwah nabi Ibrahim ketika dewasa. Awalnya pada penyembah bintang, beliau as. Berkata”Mungkin inilah Tuhan kita”, lalu saat bintang menghilang, disangkalnya pendapat yang telah dikatakan. “Bukan,ini bukan Tuhan. Kalau dia ada adalah Tuhan, tidak mungkin dia menghilang”. Begitu pula yang dikatakan beliau as. Pada penyembah matahari dan bulan. Hingga ditariklah kesimpulan bahwa Tuhan bukanlah bintang, matahari, maupun bintang, namun Tuhan adalah yang menciptakan bintang, matahari, dan bulan.
Ibrahim as. yang makin dewasa makin melembutkan metode dakwahnya, dan memperluas cakupan dakwah beliau. Kisah ini memberiakan contoh bahwa dakwah sebaiknya dijalankan dengan cara-cara yang baik, bukan cara anarkis.
Kemudian bicara mengenai ruh dakwah. Bagaimana ruh dakwah itu? Ruh dakwah adalah orang memiliki kebaikan dan menyebarkannya ke sekelilingnya. Seperti orang memiliki sebuah keburukan, contohnya wanita berzina, pasti ingin agar orang-orang di sekelilingnya juga memiliki keburukan serupa,berzina. Begitu juga orang yang memiliki sebuah kebaikan. Pasti ingin orang di sekelilingnya juga melakukan/memiliki kebaikan yang dia lakukan. Hanya saja, dalam menyebarkan kebaikan/dakwah ini jalannya panjang dan tidak tahu dimana ujungnya, banyak masalahnya, dan sedikit orang yang mau melakukannya.
Dengan karakter dakwah yang seddemikian rupa, dibutuhkan sillah billah /hubungan dengan Alloh SWT yang baik. Kita ambil kisah Rasulullah SAW. Beliau adalah da’i yang disibukkan dengan berbagai urusan. Sebagai suami, dia disibukkan untuk urusan keluarga, bekerja, mengurusi ini-itu. Beliau SAW juga mendapatkan tekanan yang sangat besar. Dimusuhi keluarga, sahabat-sahabatnya disiksa dan beliau tak mampu menolong, jalan di sekitar rumah beliau ditaburi duri-duri, dan berbagai hal yang tidak mengenakkan.
Dalam keadaan seperti itu, Alloh SWT justru tidak membiarkan Rasulullah SAW beristirahat dengan tenang, mandi air hangat disertai aromatherapy, dan tidur di tempat yang nyaman. Alloh SWt justru menyuruh beliau untuk bangun di sebagian malamnya, dan membaca al-Qur’an. Mengapa Alloh memerintahkan hal ini? Tentunya karena kelak Rasulullah SAW akan mendapatkan Qaulan tsaqila/perkataan yang berbobot/perkataan yang berat/al-Qur’an, dimana gunung pun hancur saat menerima perkataan yang berbobot ini. Itulah mengapa, Alloh SWT tidak ingin hati Rasulullah hancur saat menerima risalah ini.
Nah,produk dari ibadah ini adalah akhlaq yang mulia. Maka, kata Ibnu Ath-Thailah, orang yang baik adalah yang tidak menampakkan ibadahnya, namun akhlaqnya baik. Jangan kemudian kita menampakkan amal-amal ibadah kita, namun akhlaq yang kita tampakkan tidak mencerminkan banyaknya ibadah yang tidak ditampakkan. Tidak ramah, kerja tidak profesional, tidak amanah, dll.
Kembali pada pembicaraan mengenai dakwah, maka ada beberapa kaidah yang harus diperhatikan oleh para da’i. Kaidah ini berjumlah 10 butir, dan termaktub dalam buku FIQH DAKWAH karangan Jum’ah Amin Abdul Aziz.
1. Keteladanan sebelum seruan
2. Mengikat hati sebelum menjelaskan
3. Mengenalkan sebelum memberi beban
4. Bertahap dalam pembebanan
5. Memudahkan, bukan menyulitkan
6. Yang pokok sebelum cabang
7. Membesarkan hati sebelum memberi ancaman
8. Memahamkan, bukan mendikte
9. Mendidik, bukan menelanjangi
10. Muridnya guru, bukan muridnya buku.
Sebuah pembahasan mengenai kaidah nomer 1, keteladanan sebelum seruan. Bahwa hendaklah da’i itu menampakkan keteladanannya sebelum menyeru kepada orang lain. Ada sebuah ungkapan yang harus kita ingat, yaitu “Perbaikilah dirimu, dan serulah orang lain”. Ada kisah mengenai kaidah ini. Adalah Hasan Al-Bashri, diminta berkhutbah Jumat oleh para budak mengenai pembebasan budak. Pekan pertama, belum berbicara masalah itu. Pekan kedua juga belum membicarakan hal itu. Para budak mulai tak sabar pada pekan ketiga, hingga akhirnya pekan keempat, Hasan Al-Bashri baru membicarakan mengenai pembebasan budak. Apa sebabnya? Ternyata beliau sedang mengumpulkan uang untuk membeli budak. Baru pada pekan keempat, beliau sudah mampu membeli budak dan membebaskannya, tepat beberapa saat sebelum khutbah jumat dimulai.
Seorang ustadz senior di Yogyakarta, Ustadz Cholid Mahmud, termasuk yang soft dalam mendidik anak-anaknya. “Ah,kami dulu juga mendapat hidayah baru waktu kuliah kok. Mereka kan masih umur segitu, jadi nggak masalah kalau diberi kebebasan”,kata beliau. Namun, justru dengan cara seperti ini anak-anak beliau jadi “beres”. Tidak seperti ustadz lain yang lebih keras dalam mendidik anaknya. Apalagi ada yang bercerita mengenai nostalgia perjuangan dakwah jaman dahulu. Padahal, jaman memang sudah berubah. Kondisi sekarang dengan dahulu tentu berbeda. Tentu kondisi orangnya juga berbeda. Dapat disimpulkan bahwa kurang baik untuk menghakimi “junior” dengan nostalgia jaman dahulu.
Mungkin segini yang dapat saya rangkum, mohon maaf sekali jika pembahasannya terkesan “lompat-lompat”. Terimakasih atas perhatiannya. Semoga yang membaca dapat mengambil hikmah dari yang saya ketikkan disini.